Saat Hati Menetapkan Pilihan

20 Desember 2023

Hai, aku Alam.

Setelah Nipa kembali ke Tarakan, kami mulai semakin sering berkomunikasi melalui WhatsApp. Dari percakapan sederhana itu, kami perlahan saling mengenal lebih dalam, bercerita tentang masa kecil, keluarga, pekerjaan, sekolah, teman-teman, hobi, hingga hal-hal kecil yang ternyata membuat kami merasa semakin dekat.

Hingga suatu hari, Nipa bertanya,
“Jadi… apa tujuanmu berkenalan sama aku?”

Setelah mencoba menjelaskan banyak hal, akhirnya aku menjawab dengan sederhana namun sungguh-sungguh,
“Tentu untuk menikah.”

Pertama kali datang ke rumah Nipa, aku disambut hangat oleh Mama. Namun tanpa basa-basi, Mama langsung berkata,
“Kalau kau memang mau sama anakku, dia itu anaknya lemah.”

Dengan rasa gugup dan malu, aku hanya bisa menjawab pelan,
“Iya, Ma.”

Beberapa waktu kemudian, aku kembali datang ke rumah untuk bertemu Bapak yang baru pulang dari tambak. Kami banyak berbicara tentang pekerjaan, keluarga, dan kehidupan. Tetapi ada satu kalimat yang sangat sulit keluar dari mulutku. Hampir lebih dari satu jam aku mengumpulkan keberanian, hingga akhirnya aku berkata,

“Pak, saya mau serius sama Nipa.”

Dan sejak hari itu, perjalanan kami dimulai dengan sebuah komitmen. Bersama-sama menata masa depan, saling menjaga, saling menguatkan, dan mulai menabung harapan untuk kehidupan yang ingin kami bangun berdua.