Hai, aku Nipa
Awal mula pertemuanku dengan Alam berawal dari sebuah panggilan video bersama kakak iparku, Kak Yuni, yang ternyata juga sepupu Alam. Awalnya hanya candaan sederhana, karena menurut mereka, aku dan Alam sama-sama belum pernah dekat dengan siapa pun. Dari situlah mereka mulai berniat menjodohkan kami.
Beberapa waktu kemudian, aku datang ke Tanjung Selor untuk berlibur. Setibanya di sana, Kak Yuni langsung memberitahuku bahwa ada seseorang yang menyukaiku, dan ternyata itu adalah Alam. Di sisi lain, kakak-kakak Alam juga mengatakan pada Alam bahwa aku menyukainya. Lucu sekali kalau diingat sekarang, ternyata mereka semua sudah bekerja sama sejak awal.
Hari itu, Kak Yuni mengatur rencana untuk jalan bersama. Bahkan, ia sengaja membonceng keempat anaknya dalam satu motor agar aku bisa berboncengan dengan Alam. Awalnya aku sempat kesal karena kami berjanji pukul 19.00, tetapi Alam baru datang sekitar pukul 20.30.
Namun, rasa kesal itu perlahan hilang sepanjang perjalanan. Kami banyak bercerita hingga tiba-tiba Alam harus menyelesaikan urusan mendadak, dan karena aku berboncengan dengannya, aku ikut menemaninya. Setelah semuanya selesai, Alam mengajakku menikmati pentol kuah di Pak Le Dina, lalu duduk bersama di Siring Tanjung Selor.
Di tempat sederhana itu, kami mulai saling mengenal lebih dekat, berbagi cerita, tertawa tentang “perangkap” yang dibuat kakak-kakak kami, dan tanpa sadar, malam itu menjadi awal dari kisah cinta kami.